Salah satu contohnya adalah dibidang pekerjaan (profesi). Yang dimaksud Profesi adalah suatu pekerjaan yang melaksanakan tugasnya memerlukan atau menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi.
Pak Yossi adalah seorang pendiri dan pemilik suatu perusahaan yang menyediakan suatu jasa auditing. Pak Yossi merupakan pekerja yang professional sehingga dia dan para karyawannya dipercaya untuk meng-audit suatu perusahaan asal Swedia dibidang pembuatan bearing motor dan mobil. Sikap professional yang dimiliki oleh-nya menunjukkan bahwa dia adalah contoh nyata dalam Etika Profesi. Karena Etika Profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. ( menurut keiser dalam Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 )
Jadi etika memiliki fungsi yang menentukan suatu tindakan seseorang. Karena etika memiliki fungsi di kehidupan yang nyata seperti yang telah di contohkan diatas.
Fungsi etika dalam kehidupan adalah :
1. Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan.
2. Etika ingin
menampilkan ketrampilan
intelektual yaitu keterampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
3.
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengambil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme.
Menurut Bertens
(1994), fungsi etika yaitu:
1.
Kata etika bisa
dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi
seseorang/suatu kelompok masyarakat dalam mengatur perilakunya;
2.
Etika berarti
kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik;
3. Etika mempunyai
arti lagi: ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Etika disini sama artinya
dengan filsafat moral.Selain etika, terdapat istilah terkait yang mirip dengan kata etika tetapi memiliki arti yang berbeda, yaitu etiket. Perbedaan kedua kata tersebut adalah :
1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada
orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah
lupa.
3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam
sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut. Perintah
seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak
dapat ditawar-tawar.
4. Etiket
hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan Etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur
katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun
munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik
karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap
etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.Contohnya : Dilarang mengambil barang milik orang lain tanpa izin karena mengambil barang milik orang lain tanpa izin sama artinya dengan mencuri. “Jangan mencuri” merupakan suatu norma etika. Di sini tidak dipersoalkan apakah pencuri tersebut mencuri dengan tangan kanan atau tangan kiri. Sedangkan Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak seorang diri (ada orang lain di sekitar kita). Bila tidak ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Contohnya : Saya sedang makan bersama bersama teman sambil meletakkan kaki saya di atas meja makan, maka saya dianggap melanggat etiket. Tetapi kalau saya sedang makan sendirian (tidak ada orang lain), maka saya tidak melanggar etiket jika saya makan dengan cara demikian.
Dalam kehidupan nyata terdapat sesuatu yang positif dan ada sesuatu yang negatif. Sesuatu yang positif seperti contoh pak Yossi diatas. dia dan karyawannya mampu melakukan sikap yang professional sehingga dapat dipercaya. Disamping itu sesuatu negatif pun dapat saja terjadi diantara dia atau karyawannya, misalnya keadaan ekonomi yang memburuk diantara salah satu atau beberapa karyawannya yang menyebabkan korupsi. Itu merupakan contoh pelanggaran etika yang mempengaruhi perusahaan yang telah dibangun oleh pak Yossi. Berikut ini adalah beberapa hal yang mempengaruhi pelanggaran etika, yaitu :
1) Kebutuhan individu, misal korupsi dengan alasan ekonomi.
2) Tidak ada pedoman/area abu-abu, sehingga tidak ada/tidak jelas
panduan.
3) Perilaku dan
kebiasaan individu yang terakumulasi dan tak dikoreksi.
4) Lingkungan yang
tidak etis, pengaruh dari
komunitas.
5)
Perilaku orang yang ditiru, efek primodialisme yang keterusan.Pelanggaran tersebut akan menimbulkan sanksi dari apa yang telah dilakukan, misalnya karyawan akan dipecat jika ketauan dan terbukti korupsi. Berikut adalah sanksi dari suatu pelanggaran etika
1) Sanksi Sosial: skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’.
2) Sanksi Hukum: skala besar, merugikan hak pihak lain.
Dalam kehidupan di dunia banyak sekali suatu sudut pandang yang dipakai untuk menilai sesuatu yang telah terjadi, salah satunya dalam ber-etika. Mengapa ? Karena dalam ber-etika memiliki sudut pandang yang berbeda-beda untuk lebih menitik beratkan terhadap sesuatu. Berikut ini adalah Jenis - Jenis Etika
Beberapa pandangan terhadap etika:
Etika dapat dityinjau dari beberapa pandangan. Dalams ejarah lazimnya pandangan ini dilihat dari segi filosofis yang melahirkan etika filosofis, ditinjau dari segi teologis yang melahirkan etika teologis, dan ditinjau dari pandangan sosiologis yang melahirkan etika sosiologis.
a) Etika Filosofis
Etika filosofis adalah etika yang dipandang dari sudut filsafat. Kata filosofis sendiri berasal dari kata “philosophis” yang asalnya dari bahasa Yunani yakni: “philos” yang berarti cinta, dan “sophia” yang
berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Etika filosofis adalah etika yang
menguraikan pokok-pokok etika atau moral menurut pandangan filsafat.
Dalam filsafat yang diuraikan terbatas pada baik-buruk, masalah
hak-kewajiban, maslah nilai-nilai moral secara mendasar. Disini ditinjau
hubungan antara moral dan kemanusiaan secraa mendalam dengan
menggunakan rasio sebagai dasar untuk menganalisa.
b) Etika Teologis
Etika teologis adalah etika yang
mengajarkan hal-hal yang baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama.
Etika ini memandang semua perbuatan moral sebagai:
- Perbuatan-perbuatan yang mewujudkan kehendak Tuhan ataub sesuai dengan kehendak Tuhan.
- Perbuatan-perbuatan sbegai perwujudan cinta kasih kepada Tuhan
- Perbuatan-perbuatan sebagai penyerahan diri kepada Tuhan.
Orang beragama mempunyai keyakinan bahwa
tidak mungkin moral itu dibangun tanpa agama atau tanpa menjalankan
ajaran-ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber pengetahuan dan
kebenaran etika ini adalah kitab suci.
c) Etika Sosiologis
Etika sosiologis berbeda dengan dua etika
sebelumnya. Etika ini menitik beratkan pada keselamatan ataupun
kesejahteraan hidup bermasyarakat. Etika sosiologis memandang etika
sebagai alat mencapai keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan hidup
bermasyarakat. Jadi etika sosiologis lebih menyibukkan diri dengan
pembicaraan tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalankan hidupnya
dalam hubungannya dengan masyarakat.
d) Etika Diskriptif dan Etika Normatif
Dalam kaitan dengan nilai dan norma yang digumuli dalam etika ditemukan dua macam etika, yaitu :
1. Etika Deskriptif
Etika ini berusaha meneropong secara
kritis dan rasional sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh
manusia dalam kehidupan sebagai sesuatu yang bernilai. Etika ini
berbicara tentang kenyataan sebagaimana adanya tentang nilai dan pola
perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan
realitas konkrit. Dengan demikian etika ini berbicara tentang realitas
penghayatan nilai, namun tidak menilai. Etika ini hanya memaparkab,
karenyanya dikatakan bersifat deskriptif.
2. Etika Normatif
Etika ini berusaha untuk menetapkan sikap
dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia
dalam bertindak. Jadi etika ini berbicara tentang norma-norma yang
menuntun perilaku manusia serta memberi penilaian dan hiambauan kepada
manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya Dengan. Demikian etika
normatif memberikan petunjuk secara jelas bagaimana manusia harus hidup
secara baik dan menghindari diri dari yang jelek.
Dalam pergaulan sehari-hari kita
menemukan berbagai etika normative yang menjadi pedoman bagi manusia
untuk bertindak. Norma-norma tersebut sekaligus menjadi dasar penilaian
bagi manusia baik atau buruk, salah atau benar. Secara umum norma-norma
tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a) Norma khusus
Norma khusus adalah norma yang mengatur
tingkah laku dan tindakan manusia dalam kelompok/bidang tertentu.
Seperti etika medis, etika kedokteran, etika lingkungan, eyika wahyu,
aturan main catur, aturan main bola, dll. Di mana aturan tersebut hanya
berlaku untuk bidang khusus dan tidak bisa mengatur semua bidang. Misal:
aturan main catur hanya bisa dipakai untuk permainan catur dan tidak
bisa dipakai untuk mengatur permainan bola.
b) Norma Umum
Norma umum justru sebaliknya karena norma
umum bersifat universal, yang artinya berlaku luas tanpa membedakan
kondisi atau situasi, kelompok orang tertentu. Secara umum norma umum
dibagi menjadi tiga (3) bagian, yaitu :
- Norma sopan santun; norma ini menyangkut aturan pola tingkah laku dan sikap lahiriah seperti tata cara berpakaian, cara bertamu, cara duduk, dll. Norma ini lebih berkaitan dengan tata cara lahiriah dalam pergaulan sehari-hari, amak penilaiannnya kurang mendalam karena hanya dilihat sekedar yang lahiriah.
- Norma hukum; norma ini sangat tegas dituntut oleh masyarakat. Alasan ketegasan tuntutan ini karena demi kepentingan bersama. Dengan adanya berbagai macam peraturan, masyarakat mengharapkan mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan bersama. Keberlakuan norma hukum dibandingkan dengan norma sopan santun lebih tegasdan lebih pasti karena disertai dengan jaminan, yakni hukuman terhadap orang yang melanggar norma ini. Norma hukum ini juga kurang berbobot karena hanya memberikan penilaian secara lahiriah saja, sehingga tidak mutlak menentukan moralitas seseorang.
- Norma moral;norma ini mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma moral menjadi tolok ukur untuk menilai tindakan seseorang itu baik atau buruk, oleh karena ini bobot norma moral lebih tinggi dari norma sebelumnya. Norma ini tidak menilai manusia dari satus segi saja, melainkan dari segi manusia sebagai manusia. Dengan kata lain norma moral melihat manusia secara menyeluruh, dari seluruh kepribadiannya. Di sini terlihat secara jelas, penilannya lebih mendasar karena menekankan sikap manusia dalam menghadapi tugasnya, menghargai kehidupan manusia, dan menampilkan dirinya sebgai manusia dalam profesi yang diembannya. Norma moral ini memiliki kekhusunan yaitu :
1. Norma moral merupakan norma yang paling dasariah, karena langsung mengenai inti pribadi kita sebagai manusia.
2. Norma moral menegaskan kewajiban dasariah manusia dalam bentuk perintah atau larangan.
3. Norma moral merupakan norma yang berlaku umum
4. Norma moral mengarahkan perilaku manusia pada kesuburan dan kepenuhan hidupnya sebgai manusia.
d) Etika Deontologis
Istilah deontologis berasal dari kata
Yunani yang berati kewajiban, etika ini menetapkan kewajiban manusia
untuk bertindak secara baik. Argumentasi dasar yang dipakai adalah bahwa
suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat
atau tujuan baik dari suatu tindakan, melainkan berdasarkan tindakan
itu sendiri baik pada dirinya sendiri.
Dari argumen di atas jelas bahwa etika
ini menekankan motivasi, kemauan baik, dan watak yang kuat dari pelaku,
lepas dari akibat yang ditimbulkan dari pelaku. Menanggapi hal ini
Immanuel kant menegaskan dua hal:
- Tidak ada hal di dinia yang bisa dianggap baik tanpa kualifikasi kecuali kemauan baik. Kepintaran, kearifan dan bakat lainnya bisa merugikn kalau tanpa didasari oleh kemauan baik. Oleh karena itu Kant mengakui bahwa kemauan ini merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kebahagiaan.
- Dengan menekankan kemauan yang baik tindakan yang baik adalah tindakan yang tidak saja sesuai dengan kewajiban, melainkan tindakan yang dijalankannya demi kewajiban. Sejalan dengan itu semua tindakan yang bertentangan dengan kewajiban sebagai tindakan yang baik bahkan walaupun tindakan itu dalam arti tertentu berguna, harus ditolak.
Namun, selain ada dua hal yang menegaskan
etika tersebut, namun kita juga tidak bisa menutup mata pada dua
keberatan yang ada yaitu:
- Bagaimana bila seseorang dihadapkan pada dua perintah atau kewajiban moral dalam situasi yang sama, akan tetapi keduanya tidak bisa dilaksankan sekaligus, bahkan keduanya saling meniadakan.
- Sesungguhnya etika seontologist tidak bisa mengelakkan pentingnya akibat dari suatu tindakan untuk menentukan apakah tindakan itu baik atau buruk.
c) Etika Teleologis
Teleologis berasal dari bahasa Yunani,
yakni “telos” yang berati tujuan. Etika teleologis menjadikan tujuan
menjadi ukuran untuk baik buruknya suatu tindakan. Dengan kata lain,
suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan untuk mencapai sesuatu yang
baik atau kalau akibat yang ditimbulkan baik.
Guna Etika:
1. Etika membuat kita memiliki pendirian dalam pergolakan berbagai pandangan moral yang kita hadapi.
2. Etika membenatu agar kita tidak
kehilangan orientasi dalam transformasi budaya, sosial, ekonomi, politik
dan intelektual dewasa ini melanda dunia kita.
3. Etika juga membantu kita sanggup menghadapi idiologi-idiologi yang merebak di dalam masyarakt secara kritis dan obeyktif.
4. Etika membantu agamwan untuk menemukan dasar dan kemapanan iman kepercayaan sehingga tidak tertutup dengan perubahan jaman.
SUMBER :
https://www.academia.edu/9911741/ETIKA_PROFESI
http://id.wikipedia.org/wiki/Etika
https://coffeestreet99.wordpress.com/jenis-jenis-etika/
https://www.academia.edu/10482937/Buku_Ajar_Etika_Profesi
http://sendyego.blogspot.co.id/2012/10/pengertian-dan-fungsi-etika.html
https://www.academia.edu/11813684/ETIKA_PROFESI_PENGERTIAN_ETIKA_PROFESI
https://www.academia.edu/22598060/BAB_2_PENGERTIAN_ETIKA
https://indahwardani.wordpress.com/2011/05/11/pengertian-etika-profesi-etika-profesi-dan-kode-etik-profesi/
https://www.academia.edu/16365475/PENGERTIAN_ETIKA_DAN_PROFESI
https://www.academia.edu/9419171/etika_propesi
https://www.academia.edu/8112014/Kasus-Kasus_dalam_etika_profesi
http://www.scribd.com/doc/53705586/39/Pengertian-Profesi-dan-ciri-cirinya
http://id.wikipedia.org/wiki/Etika
http://felix3utama.wordpress.com/2008/12/01/pengertian-dalam-etika-profesi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Etika
http://felix3utama.wordpress.com/2008/12/01/pengertian-dalam-etika-profesi/
http://rizkycompas.blogspot.co.id/2011/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_09.html
https://coffeestreet99.wordpress.com/jenis-jenis-etika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar